open menu
Monday, January 18, 2021

EVERYTHING MATTERS FOR EVERYONE


Yang namanya masalah selalu dateng tanpa pernah permisi. Entah itu berat atau ringan, setiap manusia memiliki caranya masing-masing dalam menghadapi masalah. Dalam beberapa kepercayaan yang saya ketahui, hampir semuanya memiliki ungkapan "Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umatnya". Percaya atau tidaknya itu kembali lagi ke pribadi masing-masing.

Sebagai manusia yang (sering) menghadapi masalah yang kadang menguras energi, selain mengadu pada Sang Pencipta, saya pun butuh bercerita kepada teman terdekat saya. Walaupun mungkin tidak selalu mendapatkan solusi, tapi setidaknya ada rasa lega setelah mengeluarkan uneg-uneg  yang sedang memenuhi pikiran saya.

Tapi.... pernah nggak sih kalian curhat sama orang yang salah?

Curhat sama orang yang salah? Maksudnya gimana tuh?

Jadi begini, nggak selamanya temen-temen deket kita dalam keadaan free ketika kita butuh tempat buat cerita. Ada kalanya mereka sibuk dengan pekerjaan, sibuk dengan keluarga, atau dalam keadaan yang kurang sehat mungkin. and it's totally fine!

Saya pun begitu. Nggak hanya sekali dua kali temen dekat saya dalam keadaan yang bisa dijadikan tempat curhat. Lalu curhatlah saya ke temn lain yang tidak terlalu dekat, kita sebut saja Bobo. Awalnya si Bobo ini ya menyimak dengan baiklah cerita saya. Bahkan saya sampai nangis pun dia nggak memotong pembicaraan saya.

Ketika akhirnya dia bicara, saya rada kaget ya kok nyelekit banget nih? 

Contohnya begini:

  • Udahlah santai aja, gue juga pernah ngerasain yang lebih parah dari lo!
  • Alaaahhh begitu doang aja baper banget sih lo?
  • Lemah amat mental lo beginian doang sampe nangis.
Like, whaaatt??

Hellooo please deh, disini saya keadaannya lagi ngedown loh. Kok kamu bukannya berusaha semangatin saya malah bikin saya tambah down ya?

Kenapa menurut saya orang seperti itu salah dijadikan tempat curhat?

  1. Setiap orang punya permasalahannya masing-masing, ringan ataupun berat itu relatif, kamu tidak bisa menyamakan level toleransi kamu terhadap suatu masalah dengan orang lain. Bagi kamu masalah itu tidak seberapa, tapi belom tentu kan bagi orang lain? Dan begitupun sebaliknya
  2. Sejak kapan sih kata baper mulai eksis? Sungguh dari lubuk hati terdalam saya sangat membenci kosakata itu. Kenapa? Karena satu kata itu selalu dijadikan pembelaan dan pembenaran bagi setiap orang. Kita ngerasa tersinggung ntar dibilangnya baper, kita marah terhadap bercandaan orang lain dibilangnya baper, kita ditinggal pas lagi sayang-sayangnya malah kita yang semakin disalahin "makanya jangan terlalu baper" (eh, loh, kok jadi curhat? 😝)
  3. Yang paling menyakitkan sih ketika udah menyinggung mental. Kamu psikolog kah sampai bisa men-judge mental seseorang lemah? Lalu apakah dengan kamu berkata demikian akan membuat dirinya membaik?
Bagi saya, setiap orang memiliki porsi masalah hidupnya masing-masing. Entah kita sudah pernah mengalami hal yang sama ataupun belom, ketika seseorang bercerita kepada kamu, itu berarti dia mempercayai kamu. Terkadang seseorang yang sedang bercerita hanya butuh untuk didengarkan agar hatinya terasa sedikit lega.

Cobalah untuk sedikit saja berempati. Jika kamu tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang baik, alangkah lebih baiknya kamu diam, bukan menghakimi dengan mengatakan hal-hal yang merendahkan dan semakin menyakiti orang yang sedang menghadapi masalah.

Dunia sudah cukup kejam dengan segala problematikanya, tidaklah susah untuk menjadi tempat bercerita yang baik. Dan bagi siapapun yang dipercaya orang sekitarmu sebagai tempat bercerita, semoga kamu semakin dilembutkan hatinya, semakin ditinggikan empatinya, semakin diperbaiki tutur katanya. 





2 comments:

  1. Bener, setiap orang yang mau bercerita pada kita, berarti dia sesungguhnya percaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuuuuu hehehe terimakasih sudah berkunjung :)

      Delete

Newer Post Older Post Home