REALLY?

September 01, 2022

 


Beberapa tahun belakangan ini, isu tentang kesehatan mental sangat banyak menjadi topik pembahasan. Orang-orang yang memang memiliki gangguan kesehatan mental semakin berani untuk speak up tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada diri mereka. Banyak juga para ahli, seperti Psikiater dan Psikolog yang juga bersuara tentang kesehatan mental.

Dalam hal ini, nggak jarang juga saya menemukan, membaca, mendengar, ataupun melihat beberapa oknum yang self diagnose hanya untuk terlihat mengikuti trend. Seriously, it is not cool at all!.

Saya sendiri sejujurnya nggak berani untuk self claimed bahwa saya memiliki inilah, itulah, walaupun pernah ada hari-hari dalam hidup saya dimana saya memakai jasa psikolog (sekitar awal tahun 2020, before the pandemic!) untuk menyalurkan apa yang sedang saya rasakan. Sesi konsul tersebut sempat terjadi beberapa kali, seingat saya tidak sampai lima kali. Dan ya memang, setelah sesi konsul itu saya (sedikit banget) ngerasa lebih tenang.

Makin kesini makin kesana, saya merasa cukup bisa beradaptasi dan perlahan-lahan mengontrol perasaan tidak nyaman pada diri saya. Ditambah lagi, saya amat sangat bersyukur dipertemukan dengan pasangan yang bisa memahami dan mau untuk selalu menjadi pendengar segala luapan emosi saya, seperti yang saya ceritakan disini.

Namun beberapa minggu belakangan ini, entah kenapa segala sesuatunya terasa berkali lipat lebih berat. Saya menyadari sih, saya sedang mempersiapkan pernikahan sekaligus beradaptasi di tempat kerja yang baru dalam waktu bersamaan. Jelas banget hal itu yang sangat menguras energi saya. Saya sering merasa sangaaaattttt lelah, walaupun sudah tidur hampir delapan jam.

Boleh juga dibaca progres persiapan nikahan saya.

Tapi lelah yang saya rasakan bukan seperti lelah kayak habis marathon di GBK, atau lelah yang seperti abis keliling PRJ. Fisik saya nggak terasa sakit atau pegal sama sekali. Tapi entah kenapa rasa lelah yang saya rasakan membuat saya tidak produktif dalam beberapa hal. Sampai untuk membalas pesan whatsapp saja rasanya berat banget! Oke, ini lebay, tapi bener, tapi lebay, tapi... oke stop.

Dua hari lalu sepulang kerja, saya menghubungi salah satu sahabat saya via whatsapp, menanyakan apakah dia available untuk mengobrol di telpon. Karena saya merasa saya butuh tempat untuk bercerita. Kemudian sambil saya menyetir untuk perjalanan pulang kantor, sambil juga mengobrol dengan sahabat saya itu. Jujur, sama dia saya merasa bisa menceritakan apapun. Bisa dibilang kami sudah cukup paham satu sama lain. Dan ada kata-kata dari dia yang cukup membekas di saya...

"Gue yakin Ndah lo sebenernya stres banget, pusing banget mikirin ini itu, tapi gue tau lo strong enough untuk ngadepin ini semua. Makanya lo masih bisa kelihatan baik-baik aja, like nothing ever happen!"

Kemudian saya diam terpaku selama 2 hari.. ya nggak dong ya! 😅

Tapi yhaaa kalimat tersebut cukup membuat saya agak terdiam sih. Saya merasa kalimat tersebut menjadi penguat untuk saya disaat saya sedang merasa kurang baik seperti sekarang ini. Bahwa ternyata orang di sekeliling saya aja menilai saya pasti bisa melewati semuanya. That's kind of friend that you really need in your life.

Setelah obrolan itu, saya sedikit gugling tentang mentally exhausted, burnout, dan lain-lainnya istilah tentang kesehatan mental. Yaa memang dari beberapa ciri-ciri yang disebutkan, ada yang juga sedang saya rasakan. Tapi nggak apa-apa, ini semua bagian dari perjalanan hidup yang harus di hadapi. Teruslah berdoa agar Sang Pemilik Alam Semesta menguatkan diri kita, dan membantu untuk mempermudah segala sesuatunya.



Aamiin~

You Might Also Like

0 Post a Comment

i believe

i believe

wanna say something? please email me

Name

Email *

Message *